14 Kunci Sukses Franchise Makanan Tradisional

Efek fenomena wisata kuliner memang benar-benar dahsyat. Belum lagi tren waralaba (franchise) yang makin menjamur.

Simak kiat sukses berwaralaba makanan tradisional berikut ini agar tak salah langkah.

Hasuna Daylailatu

Tak perlu heran melihat restoran soto kudus, restoran masakan padang, kedai bakso malang, bahkan gerai donat, dan sate jamur dengan nama usaha yang sama, tersebar di beberapa tempat di satu kota, bahkan di berbagai belahan dunia lainnya. Bisa jadi, cabang-cabang restoran dan gerai makanan itu dibuka sendiri oleh si pemilik usaha.

Tapi, bukan tidak mungkin merupakan waralaba yang dibeli pihak lain.
Jika dulu hanya “segelintir” orang yang berbisnis waralaba, karena bisnis waralaba kebanyakan berasal dari luar negeri dan membutuhkan dana sangat besar, kini bisnis waralaba justru berkembang pesat. Menurut Fauziah Arsiyanti, SE, MM, Dip. IFP., advisor lembaga keuangan First Principal Financial Singapura, hal ini disebabkan orang yang membeli waralaba, yang disebut pewaralaba atau franchisee, tak perlu memulai usahanya dari nol.

Setelah membeli, pewaralaba tinggal menjalankan usahanya berdasarkan manajemen dan peraturan yang ditentukan pemiliknya. Meski banyak yang melirik bidang lain, bisnis waralaba di bidang makanan, termasuk makanan tradisional, lebih banyak diminati. Sebab, kata konsultan yang akrab disapa Zizi ini, masyarakat Indonesia memang menyukai makanan tradisional.

Selain itu, mau tak mau, orang memang membutuhkan makan. Ditambah lagi, berbisnis waralaba makanan tradisional tak selalu butuh modal besar. Zizi mengingatkan, tetap bersikap hati-hati dan selektif memilih waralaba, menjadi syarat utama sebelum memutuskan membeli waralaba.
Jika ingin mulai menjadi pewaralaba, berikut ini poin-poin penting yang harus diperhatikan dalam memilih waralaba makanan tradisional:

1. PUNYA HASRAT
Memiliki hasrat untuk menjual makanan yang Anda inginkan juga menjadi modal penting. Untuk berbisnis retail (perdagangan eceran), memang harus menyukai bidang yang akan digeluti. Sehingga, kondisi usaha sedang naik maupun turun, Anda tetap tekun menjalaninya.

2. RISET DAN BERUNDING
Teliti dulu terwaralaba atau pihak yang menjual waralaba, yang disebut juga franchisor, yang Anda inginkan. Bandingkan dengan terwaralaba lain yang sejenis. Jangan membeli usaha dari terwaralaba yang tak jelas identitasnya. Jika perlu, cek ke lembaga waralaba yang ada di Indonesia. Jika memang terwaralaba tersebut resmi dan bagus, bisa dipastikan akan terdaftar di sana. Bila memang suka, barulah berunding untuk mendapatkan kesepakatan.

3. CEK
Tak ada salahnya mengecek usaha terwaralaba yang Anda inginkan ke orang yang sudah lebih dulu menjadi pewaralabanya, baik yang masih berjualan maupun yang tidak. Tanya pendapat mereka. Meski satu sama lain belum tentu punya kepuasan yang sama, setidaknya Anda mendapat gambaran lebih.

4. HAK CIPTA
Teliti lebih dulu hak cipta makanan milik terwaralaba yang sudah diincar untuk dibeli. Jangan sampai hak cipta yang diklaim olehnya, ternyata milik pihak lain dan akhirnya bisa bermasalah.

5. LAMA DAN KUAT
Jika Anda tak suka risiko tinggi dan kurang berjiwa bisnis, pilih terwaralaba yang sudah lama berjalan, setidaknya lima tahun, memiliki sistem kuat, misalnya memiliki banyak cabang dan manajemen bagus, serta bermodal besar. Usaha yang masih baru, belum cukup teruji menghadapi siklus roda bisnis.

6. KONDISI KEUANGAN
Sebelum memutuskan membeli, periksa dulu kondisi keuangan terwaralaba. Jika perlu, minta bantuan akuntan publik atau pakar keuangan untuk membaca laporan keuangan terwaralaba.

7. BAYAR DI MUKA
Hati-hati bila terwaralaba meminta seluruh modal harus disetorkan di muka. Cari penyebabnya. Bukan tidak mungkin kondisi keuangan terwaralaba tidak bagus. Selain itu, kini banyak terwaralaba yang baru muncul, meminta modal di muka hanya karena ingin menarik initial fee (biaya yang diperlukan untuk memulai bisnis) dari pewaralaba, lalu kabur. Lebih baik, cari terwaralaba yang pembayarannya fleksibel. Artinya, pembayarannya bisa dilakukan bertahap.

8. CADANGAN
Saat usaha baru berjalan, biasanya perputaran modal belum berjalan lancar. Daripada usaha langsung tutup karena kekurangan modal, lebih baik sediakan dana cadangan. Menurut Zizi, pastikan memiliki modal yang cukup, setidaknya untuk tiga bulan ke depan. Jika membutuhkan Rp 10 juta untuk modal berwaralaba, misalnya, sebaiknya Anda mempersiapkan dana sebesar Rp 30 juta.

9. TURN OVER
Hitung berapa keuntungan per bulan yang didapatkan dari usaha waralaba ini. Jika hasilnya memang bagus, silakan melangkah lebih lanjut.

10. INVENTORI
Sebaiknya, pilih terwaralaba yang tidak membutuhkan banyak inventori, misalnya, mesin-mesin dan barang besar. Sebab, akan membutuhkan modal lebih banyak lagi. Lebih baik menjalankan usaha yang padat karya daripada padat modal.

11. KREATIF DAN DISIPLIN
Meski semua ilmu dari terwaralaba sudah ditransfer pada Anda, tetap harus kreatif dalam mencari pelanggan, disiplin membuat laporan keuangan, dan menerapkan aturan main yang sudah ditetapkan. Jangan terlalu percaya diri, sebab membeli waralaba yang bagus bukan jaminan makanan Anda akan selalu laris, jika tak dibarengi dua hal ini. Namun, bukan berarti Anda bebas menjual hasil masakan kreasi sendiri tanpa seizin terwaralaba. Ingat, Anda membawa nama dan imej terwaralaba.

12. BANYAK PENGGEMAR
Agar laris, pilih waralaba yang menjual jenis makanan yang banyak digemari dan tidak terlalu sulit dibuat. Antara lain, mi, ayam goreng, daging sapi, soto, dan donat, atau kue. Selain itu, teliti lebih lanjut berapa orang pelanggan yang datang ke tempat terwaralaba yang Anda incar.

13. SAMA KUALITAS
Pembeli yang datang tentu mengharapkan makanan di cabang milik Anda memiliki rasa dan kualitas layanan yang sama dengan pemilik usaha aslinya. Jadi, kontrol terus kualitas makanan dan manajemen agar pembeli tak kecewa. Mutu daging dan cara membakar wijen, misalnya, harus sama dengan yang dijalankan terwaralaba. Oleh sebab itu, patuhi peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan terwaralaba.

14. KELOLA SENDIRI
Agar lebih terkontrol dan menghindari kecurangan dalam keuangan, kelola sendiri waralaba yang Anda beli, dan jangan diserahkan kepada orang lain.

PEREMPUAN LEBIH SUKSES

Di Indonesia, modal untuk membeli waralaba lebih kecil dibandingkan di luar negeri, yaitu Rp 10-400 juta. Uang itu sudah termasuk antara lain initial fee, renovasi, suplai, inventori, deposit biaya sebelum memulai bisnis, dan biaya pelatihan tenaga kerja. Setelah usaha berjalan, ada pula biaya royalti (royalty fee), yang besarnya 2-15 persen dari penjualan.

Mengapa perempuan lebih sukses berwaralaba dibanding pria? “Perempuan “terlahir” ahli bermanajemen, termasuk mengatur pembantu, keluarga, keuangan, dan lainnya. Jadi, saat terjun ke bisnis, dia juga ahli. Selain itu, dia punya insting bagus, cenderung hati-hati mengambil langkah dan patuh peraturan,” jawab Zizi.

Lalu, kapan perjanjian kerjasama waralaba dianggap batal? Menurut Zizi, bila salah satu pihak gagal memenuhi kewajibannya. Namun, bisa jadi ada kelonggaran dari pihak terwaralaba untuk hal-hal tertentu. Jadi, baca dengan teliti surat perjanjian kerjasama.
Soal pemilihan jenis makanan untuk waralaba, tergantung selera dan kemampuan. Sebagian pewaralaba lebih menyukai masakan alias makanan “berat”, sebagian yang lain memilih snack. “Lihat juga modal dan kemampuan. Jika modalnya kecil, lebih baik memilih makanan ringan.”

CIRI TERWARALABA YANG BAGUS
1. Memiliki sistem kuat dan bermodal besar.
2. Punya laporan keuangan yang rapi, mudah dibaca, dan tak dibuat berdasarkan karangan. Akan lebih baik bila dibuat oleh akuntan publik.
3. Tak sekadar menjual bisnisnya. Tak pelit membagi pengalaman selama menggeluti usahanya, memberikan saran pada pewaralaba soal lokasi yang bagus, ada standar pelayanan dan kontrol kualitas.
4. Menyediakan pelatihan sampai tenaga kerja yang bersangkutan mahir melakukan tugasnya.
5. Menyediakan alat-alat yang dibutuhkan, sehingga pewaralaba tidak perlu membeli alat yang mahal.
6. Menyuplai makanan atau bahannya, sehingga kualitas di semua pewaralaba tetap terjaga.
7. Jujur pada pewaralaba mengenai manajemen dan kondisi keuangan waralaba miliknya.

Dipublikasi di wirausaha | Tinggalkan Komentar

Yuk, Membuka Usaha Sendiri

Mungkin Anda tidak puas dengan penghasilan yang Anda dapatkan. Atau mungkin Anda masih punya waktu luang di luar pekerjaan utama? Bila Anda merasakan hal itu, mungkin Anda mulai berpikir membuka usaha sendiri di luar pekerjaan utama.

Kita biasa menyebut usaha ini sebagai usaha sampingan. Kalau sekarang Anda ikut mencari penghasilan dalam keluarga, berarti Anda punya dua sumber penghasilan.
Jika usaha ini makin lama makin tumbuh besar, Anda bisa memilih untuk konsentrasi di usaha Anda sendiri atau menyerahkan pengelolaan pada orang lain. Sehingga Anda bisa punya lebih banyak waktu untuk diri Anda sendiri, sementara pemasukan terus berjalan. Jadi, usaha sendiri bisa memberikan Anda kebebasan waktu dan uang. Enak kan? Bandingkan dengan apabila Anda bekerja pada orang lain.

Tetapi merintis usaha sendiri tidak segampang itu. Awalnya, Anda harus terlibat penuh dalam usaha tersebut. Anda harus merancang sistemnya, mengatur siapa saja orang-orang yang akan membantu, bagaimana usaha itu bisa berjalan, bagaimana memasarkan, dan lain sebagainya.

Bahkan boleh dibilang, pada awal membuka usaha sendiri membutuhkan usaha yang lebih keras dibanding bila Anda bekerja pada orang lain. Tetapi jika usaha itu sudah mulai berjalan dengan baik, Anda pelan-pelan bisa mulai meninggalkannya dan membiarkan usaha tersebut berjalan dengan sendirinya.

BILA INGIN MEMBUKA USAHA SENDIRI
Sekarang, apa sih yang harus Anda perhatikan kalau ingin membuka usaha sendiri?

1. Bidang Usaha
Tentukan lebih dulu, bidang usaha macam apa yang ingin Anda jalankan. Apakah Anda ingin menjalankan usaha rumah makan kecil? Atau apakah Anda ingin membuka toko aksesoris seperti Tini, atau justru ingin membuka sebuah butik? Bagaimana kalau toko suvenir yang menjual pernik-pernik lucu seperti gelas-gelas lucu atau semacamnya? Bisa juga kan? Pada prinsipnya, semua bidang usaha tersebut bisa dibagi menjadi:

Bidang usaha yang jarang atau belum ada.
Beberapa dari Anda mungkin ragu bila ingin memulai bidang usaha yang belum ada atau masih jarang dilakukan. Tapi itu bukan berarti Anda tidak akan sukses. Tengok Aqua. Ketika pertama kali diperkenalkan, banyak orang ragu apakah Aqua bisa berhasil di pasaran, padahal belum pernah sebelumnya ada pengusaha yang menjual air minum dalam botol. Bahkan pada awalnya banyak yang mencibir: apa ada orang yang mau membeli air dengan harga lebih mahal dari bensin? Apalagi kita bisa memasak air minum sendiri di rumah. Nyatanya Aqua sukses besar.

Bidang usaha yang sudah banyak dilakukan
Bisa juga Anda memulai Bidang Usaha yang sudah banyak dilakukan. Kalau tadi banyak orang ragu untuk memulai bidang usaha yang baru, tapi di lain pihak banyak juga orang yang ragu untuk memulai bidang usaha yang sudah banyak dijalankan. Sebagai contoh, banyak wanita yang ragu untuk membuka butik, karena di sekitarnya sudah banyak yang melakukannya.

Sebenarnya, walau butik Anda baru berdiri, tapi kalau baju-baju yang Anda jual mempunyai kelebihan atau ciri khas dibanding pesaing Anda, selalu ada peluang untuk berhasil. Belum lagi faktor pelayanan yang baik, walau usaha ini banyak pesaingnya, maka peluang berhasil tetap terbuka.

Butik BIG milik seorang artis bernama Hughes misalnya, cukup laku juga tuh. Itu karena butik itu memiliki spesialisasi khusus, yaitu hanya menjual baju yang diperuntukkan bagi wanita yang memiliki berat badan ekstra.

2. Lokasi
Di mana Anda ingin membuka lokasi usaha Anda? Di rumah sendiri? Atau Anda ingin menyewa sebuah tempat kecil di pinggir jalan? Atau Anda ingin menyewa sebuah ruko? Jangan lupa bahwa dalam beberapa jenis bidang usaha, lokasi memegang peranan yang cukup penting. Anda sendirilah yang harus menentukan lokasi mana yang tepat dalam usaha Anda. Sekali lagi, lokasi memegang peranan yang sangat penting.

3. Pelanggan
Bagaimana Anda mendapatkan pembeli barang dagangan Anda? Atau bila itu usaha jasa, bagaimana cara Anda akan mendapatkan klien? Apakah Anda akan memulainya dengan mempromosikannya dari mulut ke mulut? Ataukah Anda akan membuat brosur dan meye-barkannya dari rumah ke rumah?

Beberapa orang yang saya kenal mempromosikan usahanya dengan memasang plang di depan tempat usahanya. Ada juga yang mempromosikan usahanya dengan memasang iklan kecil di koran. Atau, kenapa Anda tidak mencoba memasang iklan Anda di internet? Internet terbukti merupakan media yang ampuh dalam menjaring pembeli, walaupun mungkin tidak semuanya.

Yang terpenting di sini adalah Anda sudah harus tahu terlebih dahulu tentang bagaimana cara Anda dalam mendapatkan pembeli atau klien dari usaha Anda. Bila tak ada pembeli, tak akan ada penjualan. Bila tak ada penjualan, maka usaha Anda tidak cukup berhasil. Sederha na sekali.

4. Tenaga Kerja
Berapa orang yang akan Anda pekerjakan? Apakah hanya Anda sendiri yang bekerja di situ? Apakah Anda juga mempekerjakan sejumlah orang dalam usaha Anda? Mungkin ada baiknya kalau Anda mulai dengan jumlah tenaga kerja yang sedikit lebih dahulu. Nanti bila usaha Anda makin berkembang, Anda mungkin akan membutuhkan sejumlah tambahan orang yang bisa Anda pekerjakan.

Ada bagusnya bila Anda juga mempekerjakan anggota keluarga Anda. Seperti anak Anda (bila mereka sudah cukup umur tentunya), atau mungkin suami Anda. Dengan mempekerjakan mereka, maka secara tidak langsung mereka juga akan mempunyai rasa ikut memiliki dalam usaha tersebut. Dengan adanya rasa memiliki dari para anggota keluarga, maka dukungan yang diberikan kepada Anda untuk menjalankan usaha tersebut bisa makin besar.

5. Perencanaan Keuangan
Banyak usaha yang bangkrut karena kehabisan uang tunai. Karena itu penting sekali bagi Anda untuk memperhitungkan jumlah modal awal yang sebaiknya Anda miliki untuk bisa menjalankan usaha Anda. Alangkah baiknya apabila modal tersebut bisa mencukupi untuk membayar pengeluaran perusahaan selama 12 bulan ke depan.

Selain modal awal, apa yang harus Anda lakukan adalah dengan membuat perkiraan arus kas selama 12 bulan ke depan. Perkiraan arus kas adalah perhitungan yang menggambarkan berapa perkiraan arus keluar masuk uang tunai dalam usaha Anda. Sama seperti modal, maka alangkah baiknya kalau Anda memiliki perkiraan arus kas selama 12 bulan ke depan. Dengan demikian, dalam setahun ke depan, usaha Anda diharapkan tidak akan bangkrut hanya gara-gara kehabisan uang tunai.

Di samping hal-hal di atas, ada hal-hal lain yang perlu Anda perhatikan sehubungan dengan gaya berdagang Anda. Memang ada pepatah yang mengatakan bahwa orang baik bahagia hidupnya. Tapi dalam bidang usaha, terlalu baik hati bisa menciptakan sejumlah hambatan. Dan memang banyak pemilik usaha kecil yang terlalu “baik” dalam menjalankan usahanya, seperti:
- Mereka terlalu mengalah terhadap partner atau langganannya
- Mereka menetapkan harga yang pas-pasan saja atas produk dan jasa yang dijualnya
- Mereka terlalu baik hati dan kurang tegas terhadap bawahannya
- Mereka merasa ada sesuatu yang salah, kotor atau tak bermoral kalau mereka mendapatkan uang, keuntungan atau kesempatan.

Karena itu, hindari hal-hal seperti itu. Pengusaha yang baik tidak berlaku baik, tetapi berlaku adil. Adil terhadap partner atau pelanggannya, adil terhadap harga barang dan jasa yang dijualnya, adil terhadap bawahannya, dan tentu saja adil terhadap dirinya sendiri.

Terakhir, yang paling penting, ada satu hal yang harus ada di benak Anda sebelum memulai usaha sendiri, yaitu: SIAP UNTUK GAGAL. Rencanakan keberhasilan Anda, tetapi bersiaplah untuk gagal. Sehingga apabila Anda betul-betul gagal, Anda tidak akan down, dan

Dipublikasi di wirausaha | Tinggalkan Komentar

Trik Memulai Usaha Laundry

Mas Aidil yang baik,
Bisakah mengulas secara tuntas soal bisnis laundry? Mulai dari modalnya, apa saja perincian biaya untuk membeli alat dan fasilitas yang harus dipenuhi? Termasuk berapa kira-kira pengeluaran per bulan dalam bisnis laundry dan keuntungannya.

Jika ingin ber-partner, apa saja kriteria partner bisnis yang baik dan dapat dipercaya? Jika saya tak sanggup membeli alat/ fasilitas berat seperti mesin cucinya, apakah bisa menyewanya? Apakah Mas Aidil juga tahu di mana mencari pusat penjual sabun dan pewangi pakaian yang murah? Terima kasih.
Nona via e-mail

Ibu Nona yang baik juga,
Pertanyaan yang Ibu ajukan sayangnya kurang terperinci sehingga jujur saya binggung, jenis bisnis laundry yang Ibu maksud itu yang mana? Sebab, di Indonesia ada beberapa jenis usaha yang masih termasuk ke dalam kategori bisnis laundry alias cuci mencuci baju.

Bisnis laundry dari jenis yang paling sederhana dikenal dengan cuci-setrika. Bisnis ini biasanya menjamur di daerah yang banyak terdapat kos-kosan atau rumah kontrakan, dimana penyewa kos atau kontrakan tak sempat atau tak bisa melakukan cuci dan setrika baju sendiri. Biasanya ini dikerjakan oleh pembantu atau penjaga kos-kosan itu.

Sementara bentuk laundry yang canggih di Indonesia dari dulu dikenal dengan istilah binatu. Dalam bahasa modern saat ini lebih dikenal dengan istilah laundry & dry clean, dimana untuk laundry pakaian dicuci menggunakan mesin cuci. Sedangkan untuk dry clean pakaian dibersihkan pakai cairan kimia khusus yang bisa membersihkan dan merontokkan kotoran di pakaian tanpa di cuci secara biasa.
Usaha jenis ini yang dulu hanya dilakukan secara rumahan atau terdapat di hotel-hotel mewah untuk fasilitas tamunya lalu mulai menjamur di tahun 1990-an, sejak dimulainya sistem franchise (waralaba) bisnis ini dari luar negeri.

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir juga menjamur bisnis sejenis yang menggunakan waralaba lokal dan sistem agency yang bisa memberikan layanan dengan harga lebih terjangkau. Layanan ini yang tadinya hanya diperuntukkan bagi masyarakat kelas atas, kini bisa dinikmati masyarakat kelas menengah ke bawah.

Tak berhenti sampai disitu, kombinasi antara layanan murah dengan layanan cuci-setrika tadi berkembang lebih kreatif lagi dengan munculnya laundry kiloan. Yaitu laundry biasa, tapi dengan harga yang dibayarkan berdasarkan hitungan kilogram (bukan per potong pakaian).

Nah, bisnis jenis manakah yang ingin Ibu tanyakan? Jika saya asumsikan, kemungkinan besar bisnis laundry untuk kelas menengah yang bisa terjangkau seluruh lapisan. Mari kita lihat persiapan apa saja yang harus dilakukan.

Pertama, modal untuk investasi yang dibutuhkan untuk lokasi penjualan (outlet tempat menerima pelanggan/ cucian), lokasi tempat mencuci, dan peralatan berupa mesin-mesin yang dibutuhkan, serta instalasi air, listrik, dan buangan air kotor.

Lokasi tempat menerima cucian dan tempat mencuci bisa dilakukan di tempat yang sama atau terpisah, mengingat dibutuhkan instalasi air yang memerlukan ruang dan biaya yang juga besar.

Adapun mesin yang dibutuhkan adalah: cash register (mesin hitung uang), mesin cuci baju kapasitas besar/ industri, mesin pengering baju kapasitas besar, mesin setrika press besar, dan setrika tangan. Ini minimum standar mesin yang dibutuhkan untuk memulai usaha ini. Jika jumlah cucian belum terlalu banyak, mesin press (setrika otomatis) bisa digantikan seterika tangan yang harganya jauh lebih murah.

Mesin cash register digunakan di lokasi penerima cucian untuk mencatat dan menerima transaksi keuangan. Mesin cuci dipgunakan untuk mencuci pakaian yang bisa dicuci dengan mesin biasa, sedangkan pakaian yang tak bisa dicuci dengan mesin cuci biasa harus dicuci secara terpisah.
Kendati Indonesia negara tropis dengan matahari yang terus bersinar, tak bisa mengandalkan matahari untuk mengeringkan cucian. Selain itu, diperlukan ruang jemuran yang amat besar untuk mengeringkan pakaian. Bila musim hujan tiba, akan sulit untuk mengeringkan pakaian. Maka, dibutuhkan mesin pengering cucian.

Mesin seterika (press) otomatis juga diperlukan, tapi untuk mendapatkan press-line atau garis seterika yang jelas dan tegas biasanya tukang cuci lebih menyukai seterika tangan yang berat, karena memberikan hasil yang jauh lebih maksimal, meski membutuhkan tenaga pekerja lebih banyak.
Sedangkan untuk biaya operasional sehari-hari komponennya: biaya sewa tempat deterjen dan pelunak cucian, air, bahan kimia untuk dry-clean, dan SDM (pekerja). Untuk lokasi bisa di rumah sendiri, terutama lokasi untuk tempat mencuci. Sedangkan air, bisa pakai air tanah, tapi usahakan disaring lebih dulu karena air tanah yang kotor bisa merusak pakaian.

Di beberapa laundry modern, biasanya menggunakan mesin penyaring air sebelum digunakan atau mesin daur ulang air. Beberapa laundry modern yang lebih mewah dan mahal bisa menggunakan air minum mineral untuk mencuci pakaian pelanggan. Dibutuhkan 1 orang pekerja di tempat penerima cucian, 2 orang pekerja ditempat pencucian, 1 orang untuk mencuci, dan 1 orang lagi untuk seterika pakaian.

Mengenai modal terbesar yang harus dipersiapkan, untuk pembelian mesin-mesin dan sewa tempat. Adapun harga mesin-mesin relatif ke jenis mesin yang ingin dibeli. Mesin cuci punya spesifikasi, tergantung dari jumlah kilogram yang ingin dicuci apakah 10 kg, 20 kg, 30 kg, dan seterusnya, begitu juga dengan mesin penggering. Untuk mesin-mesin kelas industri keluaran Jerman memiliki kualitas terbaik, tapi harganya jauh lebih mahal dibandingkan mesin keluaran Jepang.

Untuk memulai usaha jenis rumahan, Ibu bisa pakai mesin rumahan, tapi daya tampung cucinya kurang besar. Sehingga bila permintaan cucian meningkat Ibu harus menggunakan beberapa mesin cuci. Berbisnis laundry mengandalkan kuantitas yang besar, karena keuntungan perpotong dari sisi nominal tak terlalu besar.

Maka, pemasaran atau jumlah cucian akan amat menentukan kapan investasi Ibu kembali modal serta keuntungan yang ingin diraih. Jika usaha ini ingin dilakukan dengan skala menengah memang dibutuhkan modal yang cukup besar, antara ratusan juta sampai satu miliar rupiah.

Ber-partner jadi salah satu alternatif yang bisa dilakukan. Namun, mencari partner pun tak mudah. Harus ada kecocokan dan kesamaan visi dan misi dalam menjalankan usaha bersama. Juga harus ada hitung-hitungan tegas dan jelas dalam modal serta sistem bagi hasil. Jika tak dibuatkan dalam bentuk legal (badan hukum), harus ada perjanjian bersama yang mengikat.

Banyak sekali seluk beluk soal bisnis ini yang bisa Ibu ketahui jika ingin memulainya di level menengah.
Untuk informasi lebih lanjut, ada asosiasi atau perkumpulan dari pengusaha laundry (khususnya laundry menengah dan besar), dimana Ibu bisa bertanya lebih spesifik dan mendetail seputar usaha ini. Atau, Ibu dapat menghubungi kami untuk berkonsultasi secara langsung. Salam usaha!

Dipublikasi di wirausaha | Tinggalkan Komentar

Bisnis Online (2)

Sedangkan kekurangannya, diutamakan untuk usaha sejenis batik dan kerajinan yang ingin Mbak lakukan adalah: 1. Ukuran/ Size Untuk Pakaian Yang Tak Sama Tak bisa dipungkiri, ukuran tubuh orang Asia, terutama Indonesia, berbeda dengan ukuran tubuh orang asing. Maka, ukuran pakaian (jika berbisnis batik online) akan sangat sensitif. Hal ini amat berhubungan dengan pasar online dari segi marketing atau internet bisnis yang tak ada batasnya, sehingga Mbak bisa menawarkan, bahkan ada kemungkinan mendapatkan pembeli dari luar negeri. 2. Keinginan Untuk Memegang & Mencoba Bahan Sedangkan untuk pasar Indonesia, pergi berbelanja masih dianggap aktivitas menyenangkan pelepas kepenatan dari pekerjaan dan beban hidup (terutama bagi wanita). Selain itu, pembeli khususnya di Indonesia masih lebih mementingkan panca indera perasa (tangan) untuk mengetes barang yang akan dibeli, cocok dengan ekspetasinya atau tidak. Jadi, keberadaan toko masih diperlukan. 3. Resistensi Membeli Secara Online Bagi orang awam yang belum pernah bertransaksi secara online, akan merasa janggal ketika harus bertransaksi tanpa bertatap muka atau melihat penjualnya. Belum lagi ketakutan bila pembayaran tak terkirim atau tak diterima. Atau barang tak dikirim, atau bahkan barang dikirim tetapi tak diterima. 4. Pasar Seluruh Dunia Tapi Terbatas Pada Pengguna Internet (Muda) Pengguna internet (khususnya di Indonesia, jika hanya ingin memasarkan di Indonesia), relatif anak muda. Orang tua usia di atas 45 tahun hanya sedikit yang menggunakan internet sebagai media transaksi (kecuali sebagian untuk transaksi perbankan). Sehingga, bila barang yang Mbak pasarkan menargetkan kalangan atas dengan usia lebih “matang”, kemungkinan akan lebih memilih transaksi secara konvensional. 5. Sistem Pembayaran Salah satu penyebab nomor 3 atas resistensi membeli atau berbelanja secara online, karena “dirasakan” rumitnya sistem pembayaran untuk transaksi online. Banyak orang meragukan transaksi dengan pembayaran ke rekening langsung melalui transfer bank, karena takut tertipu. Metode yang sering dilakukan, pakai kartu kredit. Sayangnya, banyaknya penipuan kartu kredit di Indonesia untuk transaksi online, menyebabkan pembayaran kartu kredit di Indonesia ditolak. Metode lainnya, dengan uang elektronik atau dompet elektronik. Tapi, tak semua orang familiar dengan metode ini, dan dirasa amat merepotkan. Nah, setelah saya jabarkan sebagian kelebihan dan kekurangan berbisnis online, Mbak bisa mulai mempersiapkannya dengan lebih baik. Berbisnis online, sekali lagi, akan tergantung dari jenis usaha atau dagangan yang ditawarkan, target pasar, metode pembayaran, dan lainnya. Jika Mbak ingin memasarkan produknya ke luar negeri, resistensi dan keraguan dalam bertransaksi bisa dieliminasi dengan memberikan jaminan tukar barang atau uang kembali, bila barang yang dipesan tak sesuai. Dan Mbak harus konsisten dalam memberikan janji. Sedangkan untuk pasar lokal Indonesia, harus dipikirkan cara agar “dagangan” Mbak juga punya display atau tempat untuk memajang barang dagangan agar bisa dilihat, dipegang, dicoba, dan dirasakan pembeli. Setelah berhasil melakukan transaksi pertama dan puas, biasanya mereka tak akan ragu untuk membeli secara online lagi. Selamat mencoba!

Dipublikasi di wirausaha | Tinggalkan Komentar

Bisnis Online (1)

Mas Aidil yang baik,
Saya (33) tadinya bekerja kantoran, tapi sejak menikah 2 tahun lalu, memutuskan jadi ibu rumah tangga. Yang tadinya terbiasa bekerja, sejak berdiam diri di rumah bikin tak nyaman. Maka, saya sedang berencana membuka usaha yaitu memasarkan produk secara online, dengan target sementara ini pasar dalam negeri, bukan pasar ekspor. Perlu diketahui, saya berasal dari Jogja, jadi cukup mengenal sentra produksi batik dan kerajinan.
Berbekal pengetahuan itu, saya berencana memasarkan batik dan barang kerajinan via internet. Kira-kira, apa yang perlu disiapkan dan bagaimana prospeknya untuk situasi saat ini? Terimakasih.
Kartika – Jakarta

Mbak Kartika yang baik juga,
Selamat atas keputusannya untuk memulai usaha baru dengan memasarkan barang-barang melalui internet. Usaha online memang amat cocok bagi ibu rumah tangga yang tetap ingin melakukan usaha.

Apalagi Mbak berasal dari Jogja, dimana banyak sekali produk-produk kreatif dari Jogja yang belum dipasarkan secara luas. Memang, ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam berbisnis online. Semakin dalam dan banyak Mbak memahaminya, semakin matang persiapan yang bisa dilakukan, dan diharapkan bisa memberikan hasil juga penjualan yang lebih baik.

Kelebihan dari berbisnis secara online, antar lain:
1. Biaya Murah & Terjangkau
Biaya promosi dan pemasaran bagi sebagian produk yang dipasarkan, memerlukan bujet cukup besar. Setiap produk punya persentase biaya pemasaran yang berbeda-beda.
Bermacam bentuk pemasaran yang sering dilakukan yaitu melalui media iklan, seperti iklan cetak di surat kabar, majalah, brosur, atau profil perusahaan (company profile).
Iklan lain dengan biaya tak kalah mahal, lewat media elektronik seperti TV dan radio. Melalui media internet, biaya pemasaran dari produk yang Mbak tawarkan jadi lebih terjangkau.
Pertama, tak harus mencetak brosur, karena semuanya sudah bisa ditampilkan di situs (website). Kedua, biaya pembuatan situs, pemeliharaan, dan perpanjangannya juga amat terjangkau, sehingga bisa dilakukan semua orang.

2. Jangkauan Penjualan Luas
Berbisnis secara online secara langsung sudah melakukan promosi dan marketing secara online tanpa batas menembus lintas negara. Sebab, bisnis via internet bisa diakses siapapun dari seluruh dunia. Sehingga pasar dari produk yang Mbak tawarkan tak hanya di Indonesia saja, tapi juga bisa ke orang-orang asing.

3. Tak Perlu Toko
Dengan berbisnis via internet, Mbak tak memerlukan toko untuk memajang barang dagangan yang ditawarkan. Sehingga bisa menghemat biaya operasional, yaitu biaya sewa dan biaya lain seperti listrik, air, dan lainnya, termasuk pramuniaga (penjaga toko).

4. Tak Perlu Gudang & Tempat Luas Untuk Stok Barang
Salah satu keunggulan dari berbisnis via internet ini seringkali pebisnis tak perlu tempat alias gudang besar untuk stok barang/ dagangannya, sehingga bisa menghemat biaya gudang atau sewa tempat. Salah satu contoh pebisnis lewat internet adalah DELL Computer di Amerika Serikat, yang menjual komputer melalui internet.

Dipublikasi di wirausaha | Tinggalkan Komentar

Plus Minus Ikut MLM

Mas Aidil yang baik,
Bisakah mengulas soal bisnis multi level marketing (MLM)? Jenis MLM seperti apa yang aman dilakukan dan menguntungkan (kriterianya apa saja)? Apa saja syaratnya untuk bisa ikut bisnis MLM? Tolong beri tips ber-MLM juga ya, Mas. Terima kasih.
Suzi via SMS

Dear Suzi,
Terima kasih untuk pertanyaannya yang singkat dan padat (lewat SMS, sih, ya, jadi harus singkat dan padat). Saya akan coba meluruskan dulu, Multi Level Marketing atau disingkat MLM, seperti namanya adalah skema marketing alias skema pemasaran dari suatu usaha. Jadi MLM bukanlah bisnis, sehingga salah jika lalu banyak orang beranggapan MLM adalah sebuah bisnis.

Meskipun “hanya menjual sistem marketing” bukan berarti MLM tak bisa dijadikan sandaran hidup atau mendapatkan penghasilan. Maka, wajar bila banyak orang menjadikan dan menganggap MLM sebagai sebuah bisnis.

Nah, jika Ibu Suzi dan pembaca melihat MLM sebagai suatu usaha/ bisnis, marilah kita ulas satu persatu bagaimana kita bisa memperlakukan bisnis MLM ini agar tak terjadi kesalahan dan di kemudian hari tak terjadi penyesalan.

Hal pertama yang harus diketahui, setiap ingin berusaha atau memulai bisnis Anda akan memerlukan modal. Modal ini terdiri dari berbagai bentuk yang bisa diberikan sebagai kontribusi kepada perusahaan. Modal pertama yang paling mudah dan sering menjadi tolak ukur dalam memulai suatu bisnis adalah modal uang.

Modal uang dipakai untuk berinvestasi (membeli peralatan, modal kantor/ tempat usaha, dan lainnya). Modal uang juga dibutuhkan untuk menjalankan usaha tadi yang lalu dikenal dengan modal berputar atau working capital. Modal kedua adalah ide, keterampilan, dan skill yang dapat dituangkan ke dalam sistem. Sering terjadi justru ide, keterampilan (skill) inilah yang jadi modal utama dan cikal bakal berdirinya suatu usaha.

Malah, banyak usaha yang amat bergantung kepada keterampilan ini, misalnya restoran yang sangat bergantung kepada juru masak alias kokinya. Berapa banyak restoran yang lalu tutup atau bangkrut gara-gara juru masaknya pindah kerja?

Modal terakhir yang harus dipersiapkan dan seringkali dilupakan adalah waktu. Dalam membangun satu bisnis yang masih sangat baru, Anda harus mengorbankan banyak waktu. Waktu sangat krusial dan kritikal, tergantung dari jenis bisnis yang akan dikerjakan. Semakin detail usaha itu dan semakin diperlukannya proses pembelajaran, akan semakin lama waktu yang harus dipersiapkan dalam membangun bisnis itu.

Nah, di mana letak bisnis MLM ini? Para kampiun MLM akan mencoba membujuk Ibu untuk join dengan sistem MLM mereka, dengan iming-iming modal kecil. Betul sekali, karena untuk join MLM biasanya hanya diminta uang administrasi untuk formulir dan biaya pengganti cetak materi.

Beberapa MLM mengharuskan Anda membeli starter kit yang harganya beragam. Mereka juga akan membujuk Ibu join MLM, karena ide dan sistem yang sudah berjalan dan teruji. Saya setuju pernyataan ini, karena MLM memiliki struktur dan sistem yang sudah di tes bertahun-tahun dan bisa berjalan sesuai bisnis yang ditawarkan.

Terakhir, mereka akan membujuk Ibu join, karena tak perlu meluangkan waktu banyak, bisa di “sambi” alias kerja part-time untuk mengerjakan MLM ini, dan malah di satu titik Ibu di iming-imingi bisa berhenti bekerja dan membiarkan sistem bekerja untuk mendapatkan uang. Nah, di sini saya tidak setuju sama sekali.

MLM seperti halnya bisnis lain, harus dibangun dengan keringat. Artinya, Ibu harus mendedikasikan waktu sangat banyak untuk bisnis ini. Apalagi di awal memulai bisnis, Ibu dituntut untuk memasarkannya. Maka, modal utama dan terbesar dalam bisnis MLM adalah waktu yang harus Ibu curahkan untuk membangun bisnis ini. Adapun sistem penjualan dengan MLM hanyalah permainan angka dan probabilitas.

Artinya, semakin sering Ibu bertemu banyak orang dan mempresentasikan produk yang ditawarkan, akan semakin besar pula probabilitas Ibu mendapatkan pengikut (istilahnya down line), dan diharapkan semakin besar penjualan dari produk yang ditawarkan. Hal ini dikarenakan penghasilan dari MLM didasarkan pada komisi dan over ride dari penjualan, beserta pengikut-pengikut Ibu.

Sering juga diiming-imingi, dengan sistem MLM yang berjalan, bisa dijadikan dana pensiun sehingga Ibu tak harus bekerja lagi. Namun, pada prakteknya jarang sekali saya menemukan kampiun-kampiun yang bisa istirahat atau pensiun secara total.

Hal ini dikarenakan sistem kompensasi dan struktur jenjang karier sudah dibentuk sedemikian rupa, sehingga jika ada salah satu “kaki” (down line) tidak aktif, maka pemimpin atau leader-nya tak bisa mendapatkan status karier, yang menyebabkan akan kehilangan tambahan bonus dan persentase dari penghasilan.

Penyebab lainnya, karena para penjual (sistem pemasaran dan produknya) juga harus selalu disemangati dan dimotivasi untuk selalu bekerja mencari pasar baru. Lalu, apakah MLM menjadi jelek? Saya bisa katakan dengan pasti, TIDAK. Bisnis MLM tetap bagus dan menjanjikan, SELAMA produk yang ditawarkan memang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Maka, jika ditanya jenis MLM seperti apa yang bagus dan boleh diambil, jawaban saya: Pertama, MLM yang menawarkan/ menjual produk yang memang dipakai untuk memenuhi kebutuhan hari-hari. Maka, tak akan terlalu sulit bagi Ibu untuk menawarkan orang lain untuk mencoba produk itu. Ingat rumus pertama di awal tulisan saya, biar bagaimanapun MLM adalah sistem pemasaran suatu produk, jadi yang ditawarkan harus yang mudah dijual.

Kedua, produk yang ditawarkan juga harus punya harga yang terjangkau. Sudah pasti produk yang ditawarkan sistem MLM akan dijual dengan harga lebih tinggi dari produk serupa di pasar, karena sistem komisi dan kompensasi yang berjenjang tadi, yang diberikan kepada Ibu dan teman-teman lain selaku jejaring MLM-nya.

Jika harga produknya sama atau sedikit lebih mahal dari yang biasa dibeli di pasaran, masyarakat masih berani atau tak ragu mencoba produk itu. Namun, bila harga yang ditawarkan sangat tinggi dan di luar jangkauan, tak akan banyak orang membeli produk yang ditawarkan.

Jika akhirnya membeli karena terpaksa atau merasa tak enak hati, tak terjadi pembelian kedua dan selanjutnya (repeat order). Padahal, senjata yang diinginkan pada sistem MLM adalah pembeli yang berulang.

Ketiga, alat bantu pemasaran yang terjangkau. Tak bisa dipungkiri, salah satu stream of income yang didapat dari bisnis MLM adalah menjual alat bantu pemasaran. Sering kali Ibu akan memerlukan banyak alat bantu pemasaran, sehingga jika harga jual yang diberikan terlalu tinggi akan cukup menguras kantong Ibu sebelum penjualan produk bisa dilakukan.

Selanjutnya, bantuan dan dukungan dari atasan secara terus menerus. Perhatikan apakah up line Ibu memiliki sistem pertemuan yang terstruktur dan rutin.
Datang dan ikuti beberapa pertemuan yang diselenggarakan grup mereka untuk melihat keaktifan dari “bos” Ibu. Bos yang aktif menginginkan Ibu maju dan mendapatkan banyak penjualan, karena mereka juga akan mendapatkan manfaat finansial dari penjualan Ibu.

Tips terakhir, siapkan waktu dan mental baja dalam melakukan bisnis jaringan ini, karena Ibu akan sering mendapat menolakan dari orang lain. Jika poin di atas tak terpenuhi dan Ibu tak tahan penolakan, saran saya, tidak usah menjalankan bisnis ini. Jika Ibu siap, silahkan dicoba, karena hasilnya sangat menggiurkan. Selamat ber-MLM!

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar

Menyikapi Bos Brengsek

Berikut ini kita bisa mengenali tipe-tipe bos menyebalkan dan jalan keluar menghadapinya.


Atasan yang menyebalkan selalu menunjukkan ingin mengadu kuat walaupun semua orang tahu, sebenarnya dia lemah. Dia tidak akan membela Anda pada saat Anda menghadapi masalah besar. Akibatnya, Anda bekerja di bawah standar dan dia tidak peduli selama itu masih sesuai dengan dana. Dia gampang dipengaruhi oleh teman sejawat Anda dan bahkan menyenangi persaingan yang tidak sehat. Dia adalah contoh klasik dari bos yang lemah dan sangat tidak baik.
Beberapa atasan memang menyebalkan. Bisa saja seorang atasan merupakan neraka bagi seorang pegawai tapi bagi pegawai yang lain dia merupakan surga. Bila Anda karyawan yang disiplin, Anda pun akan merana, putus asa jika punya atasan yang suka membolos. Dia merupakan atasan yang tertutup sedangkan Anda bawahan yang terbuka. Anda suka pengarahan sementara dia beranggapan Anda sudah cukup menguasai pekerjaan Anda. Anda berharap dapat pulang jam 18.00 sementara dia tipe pekerja keras.
Nah, sebelum menganggap bos Anda benar-benar “brengsek”, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah dia tidak bermasalah dengan pegawai yang lain? Apakah dia bersikap demikian dengan semua orang atau hanya pada Anda?” Kunci untuk dapat berhubungan baik dengan atasan adalah dengan berusaha mengerti motivasinya yang bisa jadi berbeda dengan yang Anda pikirkan.
Berikut tipe umum yang dimiliki atasan yang tidak baik dan strategi untuk menghadapi mereka.

Atasan Lemah
Dia tidak akan membela Anda, tak mau mengambil risiko, sikapnya tidak tegas dan janjinya tak bisa dipegang. Soal penyebabnya, bisa berbeda-beda. Biasanya dia hanya ingin disenangi setiap orang dan tidak bisa menghadapi konflik. Bisa jadi pula karena dia terlalu sibuk untuk mengerti permasalahan atau karena sikapnya memang tidak pedulian. Seringkali atasan yang demikian malas menjadi atasan dan lebih senang menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya. Hal ini biasanya disebabkan oleh pelatihan yang salah atau ia punya hambatan untuk memimpin.
Jika kebetulan memiliki bos jenis ini, simak penyebabnya. Kalau bos tipe yang ingin disukai setiap orang, hindari komunikasi yang bertentangan dengannya atau jangan libatkan masalah emosional. Selama masih mampu, atasi masalah Anda sendiri. Kalau masalahnya dia tidak dapat menyelesaikan problem sesuai dengan kepemimpinannya, bicaralah dengan bos yang lebih tinggi kedudukannya.
Bila atasan bersikap tidak pedulian atau malas, bekerjalah di sekitar dia. Ambil inisiatif untuk membuat parameter kerja. Bikin sendiri umpan balik yang Anda butuhkan. Undang atasan melalui e-mail untuk rapat. Cantumkan jadwalnya. Diskusikan dengan dia hanya masalah yang genting saja. Bila bos punya hambatan soal keahlian memimpin, katakan apa yang Anda perlukan dari dia untuk tugas Anda, lalu selamatkan diri Anda dengan mengirim tugas yang telah diselesaikan melalui e-mail.

Atasan “Licik”
Dia tipe atasan yang sadar akan apa yang harus dilakukan agar selalu terlihat baik. Ia tak akan segan mendepak Anda hanya karena terganggu rencana kerjanya. Dia licik dan pilih kasih, tidak akan berpikir dua kali untuk memperalat Anda demi mencapai sukses kariernya. Dukung dia dengan memberinya strategi agar dia tampil baik. Pusatkan perhatian pada pekerjaan yang bermutu. Siap-siap untuk menjadi pusat perhatian walaupun itu akan menyiksa Anda. Jangan percaya bahwa dia tertarik pada minat Anda. Tegaskan kepada dia pekerjaan yang Anda mau dengan menampilkan “profil” dan kepentingannya bagi pimpinan perusahaan

Atasan Kaku
Hal ini bisa disebabkan karena IQ- nya yang rendah atau memang sifat aslinya demikian. Dia tidak mengerti konteks, nuansa, atau pendapat kalangan atas. Bila masalahnya adalah intelektual yang rendah, perlakukan dia seperti anak kecil. Tetapi bila masalahnya terletak pada cara berpikir, asah komunikasi Anda sesuai kebutuhannya. Bila dia tipe atasan yang melihat sesuatu berdasar fakta, jangan buang waktu Anda dengan berbasa-basi. Jelaskan secara lugas dan gunakan komunikasi seperlunya.

Atasan Obsesif Pada Hal Kecil
Dia percaya pada Anda seperti Anda percaya pada anak berumur 5 tahun yang berada di belakang kemudi mobil. Tidak perduli serinci apa yang Anda berikan padanya atau berapa kali Anda membuat, mengulang, dan membuat lagi pekerjaan Anda, tetap saja salah di matanya. Alhasil, Anda jadi sama sekali tidak termotivasi dan tidak punya semangat bersaing.
Mengapa dia begitu tidak percaya? Apakah karena dia takut tidak dapat menyenangkan atasannya atau memang karena dia sifatnya yang aneh? Bila masalahnya terletak pada rasa tidak aman pada dirinya, antisipasikan masalah yang akan membuat dia marah dengan meyakinkan dia bahwa semuanya aman. Misalnya, katakan, “Pada waktu mengerjakan ini, saya sudah bicara dengan Pak X dan dia setuju.” Jangan lupa tulis di atas kertas agar dia lebih yakin dan tak menganggap perkataan Anda sekadar omog kosong.

Atasan “Tidak Terlihat”
Tidak ada yang memberi arahan pada Anda. Bahkan bos tak tahu apa yang Anda kerjakan. Tidak ada yang memperhatikan Anda apalagi memberi umpan balik. Atasan tipe ini memiliki banyak kesamaan dengan atasan yang lemah. Dia tidak kelihatan karena terlalu sibuk atau malas. Yang jelas, dia bukan jenis bos yang terlatih.
Bila dia tidak punya banyak waktu, siapkan pekerjaan lebih dahulu sebelum rapat agar rapat tersebut dapat berlangsung secara efisien. Buat strategi pada masalah di mana Anda memerlukan dukungannya. Arahkan diri Anda, beri umpan balik terhadap pekerjaan Anda, dan lakukan evaluasi yang efektif. Ucapkan terima kasih pada diri sendiri untuk pekerjaan yang telah Anda selesaikan dengan baik. Buat mekanisme kerja untuk mendapatkan pengarahan, baik dalam rapat mingguan atau rapat bulanan dengan waktu yang telah ditetapkan bersama. Pegang janjinya.

Atasan “Royal” Beri Tugas
Dia tidak mempunya kehidupan dan menganggap Anda demikian pula. Anda tenggelam dalam pekerjaan tapi dia tetap memberi setumpuk kerjaan lagi. Kadang bos tipe ini pemalu dan linglung. Atau, saking sibuknya dengan pekerjaannya, sampai-sampai tidak sadar akan kebiasaannya mengganggu orang-orang di sekitarnya.
Bila Anda sudah bicara padanya dan dia tetap tidak mengerti, buat standar Anda sendiri untuk mengevaluasi. Jangan merasa bersalah bila Anda memerlukan waktu untuk urusan pribadi. Keseimbangan bekerja adalah hak Anda. Bila perusahaan tempat Anda bekerja termasuk tipe perusahaan yang pilih kasih, ingatkan atasan Anda akan kejanggalan antara peraturan dan kebiasaan.

DUA PILIHAN
Dia kasar. Dia senang melihat Anda susah. Dia memiliki binatang piaraan yang amat disayangi tetapi Anda tidak termasuk di dalamnya. Kadang bos yang jahat adalah tipe pemberi pekerjaan di luar batas kemampuan. Pepatah mengatakan, di balik muka yang kasar tersimpan hati yang lembut, Bila Anda berhadapan muka dengannya, apakah dia akan meminta maaf atau marah? Lupakan tipe atasan Anda.
Yang terpenting adalah berbicara padanya karena mungkin dia tidak menyadari kebiasaannya. Jangan menyamaratakan kepribadiannya. Lebih baik bicara secara spesifik dan ungkapkan apa yang Anda rasakan. Lakukan tanpa harus memepermalukannya. Misalnya dengan mengatakan, “Mungkin Bapak tidak tahu….” atau “Mungkin Ibu tak menyadari…” atau “Mungkin sebetulnya Bapak tidak bermaksud …”
Bila tidak satu pun strategi berhasil, Anda punya dua pilihan. Bila Anda mempunyai alasan pribadi untuk tetap bekerja di perusahaan tersebut (entah karena mencintai pekerjaan Anda, bisa belajar banyak diperusahaan ini, menyukai teman-teman kerja ) Anda dapat bertahan dan acuhkan atasan Anda sedapat mungkin. Pilihan lain, berhenti dari situ. Ingat, hidup terlalu singkat untuk berurusan dengan penyalahgunaan seperti yang Anda hadapi!

Dipublikasi di boss | Tinggalkan Komentar

6 Keluhan Pada “Tetangga” di Tempat Kerja

Dering telepon yang tidak berhenti, bunyi ketikan terus-menerus, suara teman-teman yang mengobrol, adalah “makanan” sebagian besar pegawai di kantor.

Banyak dari kegiatan tersebut sangat mengganggu, meskipun tidak bisa dihindari. Terlebih jika bekerja di kantor yang ruangannya terbuka dan tanpa sekat, dimana meja kerja antar pegawai sangat berdekatan satu sama lain. Mudahnya interaksi dengan sesama rekan sekerja bisa mengganggu konsentrasi, sehingga karyawan tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.
Yang jadi masalah, acap kali orang yang mengganggu tersebut tidak sadar bahwa tingkah lakunya mengganggu rekan lain di dalam ruangan yang sama. Bahkan, seringkali, jika yang merasa terganggu menyampaikan rasa terganggunya, si pengganggu tersebut malah mengabaikannya. Apalagi jika orang tersebut adalah rekan kerja yang telah bekerja puluhan tahun di perusahaan tersebut. Pasti Anda pun jadi pusing tujuh keliling.
Berikut beberapa keluhan yang umum dijumpai dan tips mengatasinya.

1. “Selalu ada saja yang hilang dari meja saya.”
Yang tidak boleh dilakukan:
Bila melihat stapler Anda hilang, Ana lalu mengambil stapler teman sekerja sebagai gantinya.

Yang harus dilakukan:
Tidaklah mudah memonitor milik Anda jika Anda tidak berada di tempat kerja sepanjang hari. Tapi Anda dapat membantu memecahkan masalah jika berada di tempat tersebut. Jika ada yang akan “meminjam” pulpen ataupun stapler Anda, katakan dengan sopan, dia dapat memintanya ke sekretaris atau Bagian Pengadaan kantor. Jika masalah tidak berkurang atau jika benda tersebut tidak didapatkan di Bagian Pengadaan, sebaiknya bicarakan dengan atasan. Sebagai tindakan pencegahan agar perlengkapan kerja Anda tidak diambil oleh orang lain, simpanlah di dalam laci dan kunci jika Anda pergi makan siang atau saat pulang kerja.

2: “Saya tidak dapat memusatkan perhatian bila selalu mendengar dengungan suara orang-orang mengobrol.”
Yang tidak boleh dilakukan:
Berdiri dan berteriak, “Apakah kalian semua tidak bisa diam?!”

Yang harus dilakukan:
Jika ruang kerja Anda hanya dibatasi partisi, dan berdekatan dengan ruang kerja teman lain, pertimbangkan untuk membawa i-Pod atau headphone agar Anda tidak mendengar suara-suara yang mengganggu. Jika sungguh-sungguh tidak dapat menolerir suara ribut tersebut, sebaiknya cari tempat yang lebih tenang, misalnya ke ruang rapat yang sedang tidak dipakai. Anda juga dapat mempertimbangkan untuk membicarakannya dengan atasan mengenai kemungkinan pindah meja kerja ke tempat yang lebih tenang jika kegaduhan sangat mempengaruhi produktivitas kerja Anda.

3: “Saya menghormati obsesi rekan sekerja saya terhadap Mariah Carey …. Sayangnya, saya bukan penggemar Mariah Carey.”
Yang tidak boleh dilakukan:
Meminjam CD Britney Spears milik adik Anda dan menyetelnya berulang kali keras-keras.

Yang harus dilakukan:
Dengan sopan minta “tetangga” kerja Anda untuk menggunakan headphone. Jika dia tidak perduli, katakan dengan tegas dan sopan bahwa Anda merasa terganggu dan dapat menyetujuinya jika dia menyetelnya dengan volume yang pantas pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, pada saat jam makan siang atau di atas jam pulang kantor.

4: “Tempat kerja saya menjadi tempat berkumpulnya para pegawai.”
Yang tidak boleh dilakukan:
Bergabung dengan setiap pembicaraan atau ikut bergosip mengenai informasi rahasia yang disampaikan oleh rekan sekerja secara rahasia.

Yang harus dilakukan:
Perjelas bahwa Anda tidak tertarik bergabung dengan obrolan mereka. Misalnya dengan memasang headphone atau memberitahu kolega bahwa Anda sedang mengejar deadline dan sangat menghargai bila mereka mengobrol di tempat lain.

5: “Tetangga sebelah saya lagi-lagi membawa ikan asin untuk makan siangnya.”
Yang tidak boleh dilakukan:
Segera menyemprotkan pewangi di ruang kerja dengan harapan bau harum akan dapat menghilangkan aroma tak sedap yang membuat Anda pusing.

Yang harus dilakukan:
Karena Anda tidak dapat meminta orang lain apa yang dapat dan tidak dapat dimakannya atau minyak wangi yang bagaimana yang harus dipakainya, Anda dapat mencoba menciptakan suasana yang lebih ramah dengan memberikan contoh. Misalnya, dengan tidak mengenakan minyak wangi atau tidak makan makanan yang baunya sangat menyengat.

6: “Poster atau pajangan yang tidak pantas!”
Yang tidak boleh dilakukan:
Membuat coretan pada gambar/pajangan yang Anda anggap tidak pantas tersebut.

Yang harus dilakukan:
Jika Anda melihat poster atau pajangan yang tidak pantas, sebaiknya katakan terus terang kepada rekan sekerja yang bersangkutan. Tentu saja dengan cara yang sopan. Bila teguran Anda tidak diperdulikan, Anda dapat mengadukannya kepada atasan atau bagian Personalia.

Menyampaikan kebiasaan buruk rekan sekerja memang terasa janggal, tetapi tetap lebih baik mengatakannya terus terang daripada membiarkannya mengganggu. Permintaan yang sopan dan langsung biasanya lebih dapat diterima. Demikian juga jika seseorang menyampaikan keluhannya kepada Anda, Anda pun harus menghormatinya.Terimalah kritis dengan tangan terbuka, dan melakukan yang terbaik untuk mengakomodasi permintaannya. Jika Anda menghormati waktu dan ruang gerak orang lain, maka mereka pun akan melakukan hal sama terhadap Anda.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar

Digosipkan Teman Sekantor (2)

Mohon maaf, jumlah perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki, dari sisi organisasi pengukuran kinerja menjadi tak jelas, dan atasan tak punya cukup wibawa pada anak buahnya. Bahkan, seringkali juga menjadi bahan gosip empuk bagi para bawahan.

Erosi kewibawaan menyebabkan rasa percaya dan saling menghormati, trust & respect tak berkembang. Sehingga tak ada kebiasaan menghormati privacy orang lain dan tak ada budaya keterusterangan. Bisik-bisik dan bicara di belakang punggung orang lalu menjadi kesenangan yang menyita waktu.

Oleh karena tak terbuka, maka orang ini tak merasa harus bertanggung jawab atas apa yang ia katakana atau perbuat, dan bahkan bila tertangkap sekalipun – dalam arti ketahuan belangnya saat di konfrontasi atau diadakan cek dan ricek – tipe seperti ini bisa sekali memasang muka tak berdosa dan menyangkal. Pokoknya, munafik abis!

Lingkungan seperti ini pastilah tidak sehat bagi mereka yang berangkat dari rumah dengan niat untuk bekerja optimal dan tak mau merendahkan diri untuk menjadi penggosip. Tetapi apa daya, niat baik terkadang harus tenggelam untuk sementara, bila mayoritas memang berbudaya gosip.

Tetapi, saya ingin menyarankan agar Anda tak perlu menjadi bagian dari mereka, karena walau sementara tenggelam atau hal-hal piositif hanya sayup-sayup sampai, bila tiba waktunya, kebenaran akan nyaring sekali gaungnya! Dan, bila ini terjadi, mereka yang dibuat menderita oleh mayoritas yang ngawur tadi akan merasakan buah kesabaran yang amat manis. Maka, jangan jadi penggosip, ya, Bu N?

Sepintas kita bisa mengatakan, „Ah, Bu N ini, kok, mengada-ada sih? Yang begitu, kan, bukan masalah berat.” Tidak selalu demikian. Mereka yang punya kepribadian kuat, bisa leluasa bicara dan menyampaikan unek-unek, berani tampil berbeda dengan lingkungan bila ia merasa dirinya benar, tak punya masalah dengan tekanan kelompok seperti itu.

Tetapi group pressure mudah sekali berdampak pada mereka yang memang tak pede dari sananya, merasa butuh dukungan dari geng (kelompok), nyaman bila mengadopsi nilai-nilai kelompok, walau sebenarnya tahu hal itu tak benar, dan makanya lalu rentan bila dijadikan obyek perhatian yang memunculkan perbedaan dirinya dengan lingkungan.

Coba tengok bila ada berita pemogokan di teve, bagaimana cara mereka yang sudah di luar mengojok-ojok temannya untuk ikut? Saya tak mempersoalkan demonya, tetapi dinamika yang membuat orang akhirnya ikut, itu adalah keputusan yang sangat psikologis sifatnya. Oleh karena yang lain begitu, tak enak bila tak melakukan hal yang sama. Namanya bisa indah-indah. Solidaritas, kompak, sehati, senasib sependeritaan, dan sejenisnya.

Tetapi, tetap saja bila tak ada kebenaran di dalam nilai-nilai yang mendasari terbentuknya kelompok, hampir pasti norma kelompok yang dikembangkan pun tak akan membuat orang-orang dilingkungan itu akan nyaman. Inilah hal-hal yang membangkitkan eksklusifisme yang salah kaprah, menurut saya. Sebab, kompak dan sehati, tetap harus berada di atas landasan kebenaran, kejujuran, serta penghormatan atas orang lain, walau ia sedang berbeda pendapat dan pandnagan dengan kita.

Tak perlu takut lagi Bu N, tetap saja berlaku seperti sedia kala, dan kali ini dengan memasa bodohkan saja apa yang Anda dengar. Selama tak ada fakta, jangan buang waktu untuk memikirkannya! Bagaimana agar hubungan denagn suami dan anak-anak tetap harmonis, ya satu-satunya jalan adalah membangun rasa saling percaya, dengan bersikap terbuka dan saling menghormati.

Beri informasi sebanyak mungkin pada suami dan anak-anak, apa sih aktifitas Anda saat bekerja. Dengan siapa Anda bekerja sama, dan sampai lingkup mana tanggung jawab Anda. Kenalkan suami kepada atasan dan istrinya, sehinggan lingkungan kerja bukanlah barang asing bagi keluarga.
Mudah-mudahan Anda lebih happy dan tenang sekarang, tetapi juga jangan musuhi mereka yang menjahili Anda. Cukup membuat jarak, dan berinteraksi sebatas keperluan pekerjaan saja. Ini semua akan membuat penampilan Anda terasa lebih pede sehingga lingkungan perlu berpikir ulang bila mau menjahili Anda lagi. Salam hangat!

Dipublikasi di teman sekantor | Tinggalkan Komentar

Digosipkan Teman Sekantor (1)

Ibu Rieny Yth, Saya PNS sebuah instansi pemerintah, memiliki seorang teman perempuan (W) dan rekan kerja seorang pria (H). Saya berteman baik dengan W, Bu. Namun, tiba-tiba ada masalah yang membuat saya tak tenang. Suatu hari saya digosipkan suka kepada H, dan beritanya santer sekali. Padahal, saya sudah berusaha untuk meminta penjelasan kenapa gosip itu bisa menyebar. Tetapi, semua teman diam seribu bahasa. Sebenarnya, saya sama sekali tidak kenal H. Yang membuat saya bingung dan syok, semua orang malah menuduh saya berselingkuh dengan H. Saya sudah mencoba menjelaskan kepada teman-teman di lingkungan saya, gosip itu sama sekali tak benar, tapi semua orang tak mau percaya. Mana mungkin saya suka H, kenal saja tidak, apalagi mengobrol soal ini itu, karena saya dan H bekerja di lantai yang berbeda meski satu gedung. Bahkan, dalam menyelesaikan pekerjaan pun, saya tak berhubungan langsung dengan H. H cuma sekadar lewat di depan meja saya saja setiap hari kerja, dan itu sudah berlangsung kurang lebih sekitar 5 bulan. Sayapun sudah mencoba menggunakan jasa teman sebagai media untuk menyelesaikan masalah ini Bu, tapi percuma saja. Teman saya ini malah menjebloskan saya lebih jauh lagi. Lalu, saya coba menggunakan jasa teman lain, hasilnya pun sama saja. Bahkan, teman lain ini mengatakan, orang-orang yang menggosipkan saya justru tak tahu masalah sebenarnya. Bukan apa-apa Bu, saya sudah berkeluarga dan punya 3 anak. Yang saya takutkan, bila suami dan anak saya tahu soal gosip ini. Bukankah hal ini juga akan menjadi masalah keluarga saya, terutama suami? Saya sudah putus asa Bu, bagaimana lagi saya harus menyelesaikan gosip miring ini? N di X N yang baik, Agak aneh, orang yang tak saling kenal bisa digosipkan punya affair. Saya jadi menduga, kemungkinannya bisa dua hal. Anda adalah sosok yang demikian sensitifnya sehingga tak bisa membedakan mana yang cuma ledek-meledek, dan mana yang serius. Yang kedua, kantor Anda memang sumber gosip, sehingga para karyawan pandai membesar-besarkan masalah atas dasar sedikit fakta, yang lalu dikreasikan menjadi cerita laiknya sinetron. Coba Anda ingat-ingat, pernahkah, misalnya, saat H lewat di hadapan Anda, kemudian tanpa maksud apa-apa Anda berujar, “Eh, kok, ada pegawai ganteng? Siapa, ya, namanya?” atau kalimat-kalimat serupa. Bisa juga, ada teman yang pernah memergoki H sedang melihat dan mengamati Anda, sehingga terlihat seakan-akan senang pada Anda. Ketika dengan iseng ada lontaran kata-kata yang meledek Anda, “Eh…masak Si N ditaksir H?” Anda lalu bingung karena tak siap untuk dijadikan bulan-bulanan. Lebih jauh lagi, karena reaksi Anda ini teman-teman lalu menganggap Anda adalah sasaran empuk. Maka, godaanpun ditingkatkan lagi, tetap dengan tujuan lucu-lucuan saja. Tidak heran ketika Anda lalu memakai perantara, ada teman yang mengatakan mereka malah tak tahu Anda punya masalah, pastinya sambil tertawa tergelak-gelak, N? Yang kedua, Anda memang berada dalam lingkungan di mana banyak terdapat bigos, alias biang gosip. Tanda paling jelas, mereka adalah sekumpulan pegawai yang lebih banyak waktu luang ketimbang menyelesaikan pekerjaan.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar